UNTUK ILINE

 

Aku tulis ini untuk versi Iline Amalia…

Aku tahu kamu tidak akan membaca tulisan ini, atau membacanya tapi dengan sungkan dan hanya sebagian. Aku mengerti karena kamu bukan tipe orang yang suka dengan tulisan panjang, penjelasan atau menjelaskan.

Tapi, secara garis besar tulisan ini aku bagi menjadi 4 bagian.

1.    1. Awal

2.    2. Kenapa

3.    3. Harapanku

4.    4. Akhir

AWAL

Aku sudah mengakhiri sesi konsultasiku. Bukan karena aku sudah sembuh, tetapi karena aku merasa sedikit lebih baik dari sebelumnya. Aku mengakhirinya karena dua hal. Pertama, karena menurut hasil observasi, aku tidak mengalami gangguan yang berat. Kedua, karena aku merasa sudah cukup dengan apa yang bisa kualokasikan, baik secara tenaga, waktu, maupun biaya.

Aku mengatakan bahwa aku tidak benar-benar "sakit" bukan berdasarkan penilaianku sendiri, melainkan dari hasil observasi yang menyebutkan bahwa aku mengalami anxiety dan depresi ringan. Meski nilai depresiku cukup tinggi, dengan aku memilih mencari bantuan dan menjalani proses konsultasi daripada melampiaskannya dengan menyakiti diri sendiri atau mengakhiri hidup, (meskipun pikiran-pikiran itu sempat terlintas dan bahkan beberapa kali hadir dalam mimpiku). Bagiku, keputusan untuk tetap memilih jalan medis adalah satu kemenangan kecil dalam menghadapi hidup.

Namun, saat menulis ini, aku juga menyadari ada kekalahan yang baru benar-benar kupahami. Kesabaranku menurun. Emosiku menjadi lebih mudah meledak. Aku pernah memaksakan penjelasan ketika seharusnya berhenti, mengemis pertolongan karena merasa benar-benar terpuruk, bahkan tetap berusaha menghubungimu dari berbagai arah ketika aksesku sudah ditutup. Jika harus menunjuk satu hal yang paling kasar yang pernah kulakukan kepadamu selama kita saling mengenal, mungkin itulah jawabannya.

Aku tidak menjadikan kondisi yang kualami sebagai alasan untuk membenarkan semua itu. Justru aku ingin mengakuinya sebagai kesalahan. Entah karena kondisi mentalku saat ini atau karena aku memang kehilangan kendali, yang jelas aku telah menyakitimu dengan cara yang tidak seharusnya. Untuk itu, aku sungguh menyesal.

Seperti yang pernah kuceritakan, penyumbang terbesar dalam depresiku adalah penolakan, disusul kegagalan, lalu keadaan yang datang bersamaan.

Awalnya aku juga berpikir bahwa aku hanya berlebihan, terlalu lemah, atau membesarkan sesuatu yang sebenarnya sepele. Sampai akhirnya aku menyadari satu hal.

Aku pernah jatuh lebih dalam dari sekarang.
Aku pernah gagal lebih besar dari ini.
Aku pernah patah hati yang lebih menyakitkan dari sekarang.
Aku pernah bangkrut lebih parah dari ini.
Aku pernah tertinggal lebih jauh dari ini.
Aku pernah merasa lebih sendirian dari sekarang.
Bahkan aku pernah menangis lebih lama dan sering daripada akhir-akhir ini.

Namun semua itu tidak pernah menghancurkan mentalku seperti kali ini. Bukan karena salah satunya lebih berat, melainkan karena sekarang semuanya datang hampir bersamaan. Seolah hidup menghajarku dari berbagai arah dalam waktu yang sama, menumpuk tanpa memberiku cukup ruang untuk bernapas hingga akhirnya menekanku ke titik terendah.

 

KENAPA?

Karena ini versi Iline Amalia, aku akan menulisnya dari sisi asmara. Aku juga menulisnya dalam versi untuk Ibu dan sudah aku bacakan kepada Ibu dengan hasil respon baik berupa “Sabar”. Karena orang yang paling aku kecewakan dari keadaanku sekarang adalah Ibu. Aku merasa Ibu sudah mendoakanku lebih keras dari mendoakan Kakak dan Adikku, tapi dengan hasil yang jauh daripada doa untuk kakak dan adikku. Karena setiap kegagalan yang aku ceritakan, termasuk tentangmu yang gagal aku pertahankan, Ibu selalu bilang “Sabar” tapi dengan tatapan mata kecewa. Aku harap Ibu kecewa kepadaku bukan kecewa kepada Doa-doanya kepada Allah untukku.

Aku datang sebagai orang dalam keadaan nyaman pada kesendirian dalam waktu yang lama (hampir 3 tahun) sebelum memutuskan untuk mencari partner melalui sesi biro jodoh di X. Selama waktu itu aku selalu berdoa meminta yang terbaik dari sisi cantik, pintar mau menerima dan menemaniku.

Sholat Istigharahku hanya untuk meminta petunjuk jalan dan dibukakan pintu. (Aku sudah pernah menceritakan ini). Sampai suatu waktu setelah Istigharah aku bermimpi tentang dunia yang berubah dan semua pintu terbuka pada tampilan sebuah sistem yang waktu itu aku artikan sebagai sosial media. Dan tidak berselang lama dari itu muncul sesi biro jodoh di Base Tegal dan dengan pertimbangan yang rumit di kepala sendiri aku memberanikan diri untuk mengirimkan CV singkat ku seletah itu aku tidak tahu harus berbuat apa.

Sebagai orang yang sudah sendiri dalam waktu lama, tidak berani bermain dating app, takut memulai, tidak berani membalas satu pun balasan pada Twit ku itu. Sampai ada pesan masuk dari Admin yang denga isi “@.....  tertarik, buruan DM” dan aku masih dengan kebodohanku, aku tidak langsung meresponnya, aku sibuk dengan isi pikiranku, apakah ini jawaban dari doa ku selama ini? Apa orang ini adalah jawaban dari doa ku? Dan aku memutuskan untuk membawanya ke dalam Istigharahku. Berbekal scrolling dari akunmu itu dan hasilnya seorang Perempuan dengan jas putih berdiri di depanku dalam mimpiku. Dari situ aku memberanikan diri untuk mengirimkan pesan.


Aku bukan orang yang mudah membuka hati. Hampir tiga tahun aku memilih sendiri. Ketika akhirnya aku memberanikan diri menghubungimu, itu bukan keputusan spontan. Aku sudah membawa semuanya dalam doa dan istikharah. Karena itu, bagiku, mengenalmu bukan sekadar mencoba, tetapi sebuah langkah yang benar-benar kuusahakan.


Kenapa akhirnya aku memberanikan diri membuka hati setelah sekian lama menutupnya? Bahkan dari rencana pertama kali kita “akan” bertemu. Sepulang kerja, hujan, dan lewat jam malam membuat kita gagal ketemu, tapi aku tetap menuju tempat yang kita rencakan untuk bertemu, sendirian. Di tempat itu: Celco, aku masih tetap yakin dengan pikiranku, orang ini jawaban dari doa dan Istigharah ku, tidak kecewa sedikit pun dan tetap berharap besok atau di lain hari akan ketemu.

Dan pertama kali aku melihatmu duduk di kursi Minapadi dan kalimat pertama yang keluar dari kamu adalah “Kamu pesan apa?” dengan suara beratnya. Dari situ muncul kesan pertamaku ke kamu: Tegas dan mungkin sedikit keras dan aku tertarik. Obrolan kita seputar hobi dan apakah kita bisa ketemu lagi? Aku memastikan dalam hatiku kita akan bertemu lagi dan akan lebih sering bertemu, sebagai usaha awalku aku memberanikan diri menemui di luar kota dengan modus bergabung ke agenda naik gunung.

Singkatnya, aku benar-benar memasukan kamu ke dalam hatiku dan berusaha masuk ke dalam hatimu dengan cara menerima apapun yang kamu ucapkan, keputusanmu, kegiatanmu, temanmu. Dari mengizinkanmu keluar bersama Pria lain, sumpah aku tidak marah saat itu, aku terima, aku memaafkan, dan aku mengerti. Yang aku pastikan adalah kamu aman dan kamu bahagia, itu cukup bagiku.

Kamu mengatakan bersama ku adalah seleksi disaat aku meyakinkan diri sendiri bahwa bersamamu adalah akhir. Aku sangat paham dan sangat terima apapun pilihan dan pendirianmu itu. Aku melawannya dengan doa, berdoa untuk dimudahkan untuk bisa bersamamu, diberi kemampuan dan ditetapkan. Meskipun aku imbangi doa itu dengan dosa yang sangat aku sesali sampai detik ini.

Aku benar-benar memantapkan diri untuk menerima apapun adanya kamu dan mengusahakan apapun yang sekiranya membuatmu senang atas adanya aku. Termasuk mengusahakan bisa bertemu denganmu setiap bulan. Bisa menyisihkan sedikit waktu dan sebagian besar penghasilanku untuk bisa bersamamu. Dan berusaha membuat waktu singkat bersamamu menjadi berharga dan seberkesan mungkin. Setiap bulan aku selalu menghitung hari kapan kita bisa bertemu lagi. Rasanya perjalanan jauh dan biaya yang keluar tidak pernah terasa berat, karena bagiku beberapa jam bersamamu sudah cukup membuat satu bulan berikutnya terasa lebih ringan.

Semua konflik dan ketidaksepahaman kita aku anggap sebagai ujian, ujian untuk doa-doaku atas kamu dan kita. Aku hapus kata “pisah” dari kamus kata-kata hubungan aku dan kamu yang tanpa aku sadari, itu tidak secara otomatis menghapusnya juga dari dirimu. Sampai akhirnya kata itu keluar dari kamu, aku sudah tidak punya definisi untuk kata itu karena aku sudah lama menghapusnya dan yang bisa aku lakukan hanya mengiyakan tanpa keluar satu kata lawan dari keputusanmu itu.

 

HARAPAN

Aku tahu harapan itu sudah tertutup rapat untukku, kamu tidak mengatakannya secara langsung tapi tindakanmu memperjelas bahwa tidak ada harapan untuk aku “lagi”.

Dan bukan sebuah rahasia apa harapanku dari awal aku mengenalmu, bersamamu sampai dititik akhir kamu mengakhiri ini semua, harapanku: Bisa bersamamu, menikah, bertanggung jawab. Harapan itu berhenti sejak kamu terpantau berkegiatan dengan seseorang dan respon yang tiba-tiba berubah. Aku tidak marah, sama sekali tidak marah, hanya merubah harapanku yang tadinya seperti yang sudah aku jelaskan menjadi aku ingin bisa melihat setiap kegiatanmu, kebahagiaanmu, hobimu, bersama siapapun itu.

Karena ini bukan konflik pertama kita dan bukan keputusan pertamamu untuk mengakhiri hubungan. Kita sudah pernah membahas dan kita sepakat jika suatu saat kita tidak berjodoh, kita bisa menjadi teman seolah tidak pernah terjadi apapun yang bermakna dalam hidup kita. Kamu pun pernah meminta untuk terus berkomunikasi jangan penah ditinggalkan dan tetap apa adanya di kenyataan dan di sosial media.

Kita pernah menjadi partner dalam hal apapun dan cerita apapun. Aku sangat menikmati momen itu dan pernah meminta suatu saat nanti jika memang nasibku seperti orang sebelum aku, kita bisa tetap seperti ini: Bercerita dan menceritakan apapun, mengeluhkan pekerjaan, dan aku pun meminta dengan rela untuk suatu saat nanti jika kita tidak bisa bersama aku atau kamu akan saling menceritakan mengenalkan siapa orang yang kita pilih dan bersama kita.

Jadi harapanku sekarang adalah menjadi temen, teman yang murni berteman tanpa perasaan, menertawakan apapun itu seperti dulu, saling memperkenalkan pasangan seperti sahabat pada umumnya. Aku membayangkan itu akan sangat indah daripada dengan keadaan seperti sekarang: Saling blokir dan menutup komunikasi seperti musuh dengan kesalahan fatal dan seolah tidak ada hal indah yang bisa menjadi pengecualian untuk tidak selayaknya kita seperti ini.

Aku mungkin tidak bisa menjadi rumah untukmu pulang, tapi setidaknya aku bisa menjadi satu tempat teduh di pinggir jalan diantara kamu dan rumahmu yang bisa menjadi tempatmu beristirahat sejenak sebelum melanjutkan jalan untuk pulang.

Kataku: Jika suatu hari nanti kita memang tidak ditakdirkan berjalan berdampingan sebagai pasangan, aku hanya berharap kita tidak perlu berjalan saling membelakangi. Bagiku, semua hal baik yang pernah kita lalui tetap layak dikenang, bukan dihapus.

Karena yang aku butuhkan sekarang adalah temen, bukan hanya kepadamu aku berusaha untuk membuat sebuah hubungan baik sebagai teman, tapi juga kepada beberapa orang yang aku anggap mereka teman. Aku tidak meminta kamu atau mereka menolongku dari situasi ini, aku hanya butuh ada orang yang membersamaiku dan masih mau berteman denganku apapun keadaanku.

Sampai pada titik aku bertanya kepada diri sendiri: apa yang harus kulakukan agar tetap bisa menjadi seorang teman? Bukan karena aku ingin memaksakan diri untuk tetap berada di kehidupan seseorang, tetapi karena akhir-akhir ini aku hanya ingin percaya bahwa keberadaanku masih memiliki arti bagi orang lain.

Di masa ini, aku bahkan sempat mengutarakan pertanyaan-pertanyaan seperti itu kepada beberapa orang, termasuk kepadamu. Aku bertanya, "Apa syarat menjadi temanmu? Apa yang harus kulakukan agar bisa diterima sebagai teman?" Bahkan, dalam putus asaku, sempat terlintas pikiran yang berlebihan: "Apa yang harus kubayar agar tetap bisa dianggap sebagai teman?"

Yang muncul dari pengalaman salahku yang pernah memberikan cinta, ketulusan dan kesetiaan. Dengan harapan aku akan dianggap dan dipertahankan karena sudah memberikan hal paling berharga yang aku miliki itu. Apa lagi, atau apa yang belum aku berikan untuk memenuhi syarat menjadi pasanganmu dulu dan temanmu sekarang?

Sekarang aku sadar, pertanyaan-pertanyaan itu tidak sepantasnya kubebankan kepada siapa pun. Itu bukan pertanyaan yang harus dijawab oleh orang lain, melainkan cerminan betapa aku sedang kehilangan arah dan merasa begitu takut kehilangan orang-orang yang berarti dalam hidupku.

Ada satu kalimat darimu yang masih kuingat, tentang penyesalan karena pernah mencoba menurunkan selera dan standar untuk orang sepertiku. Kalimat itu memang menyakitiku, tetapi pada akhirnya membuatku sadar bahwa mungkin memang ada hal-hal yang tidak mampu kupenuhi, sekeras apa pun aku berusaha. Aku paham  jika aku sangat tidak pantas untuk mendampingimu. Bukan karena aku menyerah, tapi karana usahaku sudah sampai dibatas maksimal yang bisa aku lakukan dan itu tetap tidak cukup untukmu. Dan aku sangat paham jika pun untuk menjadi teman aku tidak memenuhi standar pertemananmu maka biarkan harapan itu tetap hidup sampai padam dengan sendirinya. Aku masih di tempat yang sama dan semoga masih bisa dan terus bisa dengan respon dan sifat yang sama tapi dengan perasaan yang berbeda. Aku tidak akan lagi menyiksamu dengan perasaan salah karena harus menurunkan selera dan standarmu untuk menerima seseorang.

Jadi? Yaa! Harapanku bukan bisa bersamamu lagi sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai teman. Aku berharap semua hal baik yang pernah kita bangun tidak harus mati hanya karena kita gagal menjadi pasangan. Mungkin aku belum sepenuhnya bebas dari perasaan itu. Tapi aku sadar aku tidak lagi berharap menjadi pasanganmu. Yang kuharapkan hanyalah kita tidak menjadi dua orang asing yang saling menghapus keberadaan satu sama lain dan menjadi dua orang yang berteman dan mudah-mudahan bisa membawa manfaat satu sama lain.

Itulah harapanku. Harapan yang masih kusimpan dengan tenang, meski setelah aku diblokir, aku kehilangan kesempatan untuk sekadar melihat kabarmu atau menyapamu sebagai seorang teman. Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti celah itu akan kembali terbuka atau memang akan tetap tertutup. Apa pun hasilnya, harapan itu ada dan sungguh-sungguh.

 

AKHIR

Jika kamu membaca sampai pada bagian ini aku sangat berterimakasih karena kamu sudah mau meluangan waktu serta perhatian disela kesibukan dari pekerjaanmu dan perhatianmu yang sedang terfokus kepada orang lain atau hal lain.

Dan akhirnya aku pahami dari konsep petunjuk melalui mimpi setelah Istigharah untuk manusia seberdosa aku adalah: Mimpi muncul dari apa yang aku pikiran sebelum tidur. Aku berharap pemahamanku ini salah, dan bukan tanda bahwa Istigharah sama sekali tidak akurat mengenai petunjuk. Tapi itu semua murni terjadi karena aku yang terlalu berdosa untuk menerima keakuratan petunjuk melalui mimpi setelah Istiharah.

Aku selalu bermimpi tentang kamu, di mana pun aku tidur dan kapan pun aku tidur, setelah atau tanpa Istigharah. Bukan aku menolak petunjuk itu tapi ada benang merah kenapa aku bisa memimpikanmu setiap malam. Setiap malam sebelum tidur aku terbiasa melihatmu, mendengar suaramu, atau menyapamu, dan itu masih aku lakukan sampai sekarang dengan sekedar mengucapkan “Selamat malam” melalui WhatsApp yang padahal sudah terblokir dan dengan kepastian 100% pesan tersebut tidak akan pernah sampai kepadamu.

Kenapa aku tetap melakukan hal tersebut adalah aku mencari dan membuat triger untuk diriku sendiri supaya bisa tertidur. Karena bukan hal yang bisa dihitung dengan jari, aku sudah mencobanya dengan memaksa tidak menyapamu sebelum tidur dan itu membuat durasi insomniaku semakin panjang. Berbeda jika aku sudah menyapamu meskipun itu tanpa balasan dan bahkan tanpa terkirim, aku merasa sedikit tenang dan bisa tertidur meskipun dengan konsekuensi bermimpi tentangmu.

Sampai akhirnya disesi terakhir konsultasiku aku mendapat sebuah masukan, jika aku masih memimpikan seseorang terus menerus itu tanda aku belum memaafkan diri sendiri, masih punya hutang, belum menyelesaikan dan mengakhiri dengan kejelasan. Dan cara yang disarankan untuk aku lakukan adalah menulis pesan atau surat tentang apa yang memenuhi fikiran dan mengungkapkan perasaanku untuk kemudian disampaikan kepada orang yang yang memiliki arti atas tertulisnya surat ini.

Jadi, alasan aku menulis surat ini pada akhirnya adalah untuk mengakhiri yang pernah terjadi dan memulai yang benar-benar baru bersamamu, bukan sebagai pasangan tapi sebagai teman. Dan tentu saja upayaku untuk memaafkan diri sendiri dan memperjelas pada diri sendiri jika kemarin, bersamamu, menjadi siapapun aku didalamnya, sudah selesai. Sekarang harus menempatkan diri di dalam ruang bernama pertemanan itupun jika masih ada ruang tersisa untukku dan pantas untukku.

Terima kasih karena pernah menjadi bagian yang sangat berarti dalam hidupku. Terima kasih untuk semua waktu, cerita, tawa, pelajaran, dan kenangan yang pernah kita bagi. Tidak semuanya berakhir seperti yang kuharapkan, tetapi itu tidak membuat semuanya menjadi sia-sia.

Aku tidak tahu bagaimana kita akan saling mengenang di masa depan. Mungkin sebagai teman, mungkin sebagai dua orang yang hanya pernah saling mengenal, atau mungkin tidak lagi memiliki ruang dalam kehidupan masing-masing. Apa pun itu, aku memilih menghormatinya.

Semoga setelah surat ini, aku bisa benar-benar belajar memaafkan diriku sendiri, menerima semua yang telah terjadi, dan melangkah dengan lebih tenang. Dan semoga kamu juga selalu menemukan kebahagiaan, dalam bentuk apa pun yang kamu pilih. Aku tetap aku, kamu tetap kamu, dan kita tetap kita, dengan rasa yang berbeda.

 

Salam.

 

Fikri Aizat
(Yang semoga diterima sebagai teman)

 

Comments